[Ep01 Part I] Sinopsis Aishite Tatte Himitsu wa Aru – My Lover’s Secret

Rahasia, masa lalu, kebohongan, dan kejahatan. Empat elemen yang menjadi esensi dalam drama ini. Saat rahasia terus terpendam dan membuahkan rasa bersalah, bukan berarti sang oknum tidak bisa bahagia. Rei Okumori diberikan anugerah setelah beberapa tahun memendam kesalahannya. Kehadiran Sawa perlahan membuat hidupnya lebih ceria. Namun saat kebahagiaan itu akan direbut paksa, akankah Rei Okumori sanggup menghindar? Ternyata, bukan dia saja yang mengetahui kejahatan sebelas tahun lalu. Ia, ibunya, dan satu sosok misterius yang saat ini terus menghantui dirinya.

***

Rei Okumori dan Sawa Tachibana sedang duduk di ruang tengah, menanti hari pernikahan mereka dengan damai. Sawa tiba-tiba mengangkat topik tentang rahasia. Karena mereka akan menikah, Sawa ingin mereka menceritakan hal-hal yang masih tidak diketahui satu sama lain. Sambil memakan satu kacang, satu rahasia terungkap. Begitu peraturannya

Awalnya cuma rahasia seperti Rei takut nonton film Titanic ketika kecil, atau Sawa suka menari tarian Justin Bieber saat sedang sendiri di rumah. Namun akhirnya Sawa mulai serius membuka sebuah rahasia. Ia terlihat ragu dan gagap. Begitu rahasia akan keluar, Rei mencegahnya.

“Jangan memaksakan diri, jika rahasiamu tidak bisa dikatakan.”

Telepon pun berdering. Sawa mengangkat telepon yang ternyata dari Ayahnya. Ternyata sang Ayah mau mampir ke apartemen Sawa. Akhirnya Rei pun pulang. Wajahnya muram, seperti memikirkan sesuatu.

Di perjalanan pulang, pikiran Rei mengembara. Rahasia? Bagaimana mungkin aku bisa mengatakan rahasia pada tunanganku. Aku tidak bisa mengatakannya, karena ia orang yang aku cintai. Aku tidak mungkin mengatakan bahwa.. musim panas sebelas tahun yang lalu…

…aku membunuh seseorang.

Saat itu Rei SMP baru pulang sekolah. Ia menyaksikan ibunya dihajar membabi buta oleh ayahnya. Ayahnya menghempaskan seikat mawar kuning ke lantai. Katanya, “Warna mawarnya bukan yang ini!”

Rei berusaha menghentikan ayahnya, namun ia juga kena getah. Ia juga didorong hingga membentur dinding. Lalu sang Ayah tidak membiarkan ibunya lolos begitu saja. Ia masih menghajar sang Ibu hingga Rei merasa kehilangan kendali. Ia pun menghantamkan piala penghargaan Ayahnya ke kepala beliau. Ayahnya pun meninggal seketika.

Rei mengerang pilu. Saat ia sadar, ayahnya sudah terkapar tanpa nyawa. Kembang api meluncur mengiris langit, sementara musik klasik bergema di ruangan gelap itu. Menambah suasana mencekam di musim panas.

Rei memutuskan untuk menyerahkan diri. Namun dicegah oleh ibunya. Ibunya berterima kasih karena Rei sudah menyelamatkan dirinya. Mereka pun mengubur ayahnya di pekarangan belakang, lengkap dengan senjata pembunuhnya. Ibunya berkata, “Sekarang giliran ibu melindungimu, Rei.”

Lalu mereka membuang mobil ayahnya ke laut. Persneling diarahkan ke normal, dan gantungan kunci ulang tahun rumah sakit ayahnya masih menggantung di kunci mobil. Di tebing itu, Rei dan Ibunya mendorong mobil hingga jatuh ke laut.

“Malam ini, kita pulang seperti biasa. Tidur seperti biasa, dan Ayah sudah tidak ada di rumah. Karena kita tidak meninggalkan bukti, maka ini bukanlah kejahatan.”

Layar berganti pada Tokyo 2017. Rei berjalan lesu di tengah hingar bingar kota. Sebelas tahun sudah lewat setelah itu, tapi semua berjalan seperti biasa. Kadang ia tidak percaya ayahnya sudah meninggal. Apakah ini mimpi? Ada kalanya Rei juga berhalusinasi tentang itu. Apakah ayahnya hidup di suatu tempat?

Bagi Rei, kehidupan tenang hanyalah mimpi belaka.

***

Sawa dan Rei sedang berdua di perpustakaan. Rei belajar dengan khusyuk, tidak memperhatikan sekeliling. Saat Sawa cerewet tentang banyak hal, Rei hanya menjawab “Ya..”. Akhirnya Sawa mengatakan sesuatu yang mengejutkan.

“Bagaimana kalau kita menikah?”

Rei masih menjawab “Ya” asal-asalan. Namun begitu sadar, ia kaget. Tidak sangka akan dilamar wanita. Namun tentu saja, Rei juga menyukai Sawa sejak lama. Akhirnya Rei menerima lamaran Sawa.

Rei pun baru mau bercerita tentang lamaran Sawa pada Ibunya, namun Ibu Rei malah menebak. Ia girang bukan main saat Rei menerima lamaran Sawa. Setelah diselidiki, ternyata lamaran itu disuruh oleh Ibu Rei sendiri.

Namun Rei tidak percaya diri. Ia merasa “Orang sepertiku tidak pantas untuk menikah.” Ibunya pun menyemangati Rei. Rei sudah lama menderita dan pada dasarnya Rei adalah orang yang baik. Ini sudah saatnya Rei bahagia, kata Ibu Rei

Rei pun berjanji pada Sawa akan merayakan pernikahan mereka besok karena Ibu Rei sudah setuju. (Merayakan seperti makan di luar dll). Saat Sawa bilang “Kita akan bahagia, ya?” Rei hanya termangu.

Esoknya ada kasus masuk ke kantor magang hukum Rei. Kasus yang melibatkan pria tengah baya yang bernama Kaneko Shinichi. Kotaro Adachi (diperankan oleh Jin Shirasu) menginterogasi pria itu.

Kotaro memastikan bahwa Pada tanggal 2 Juli 2017 jam 10 malam, Kaneko Shinichi mengikuti Hosada Minami di depan Taman Minatomachi. Minami membawa uang 10.382 yen, buku catatan, dan 9 barang lainnya. Kaneko Shinichi merampas tas Hosada Minami. Hal itu dibenarkan oleh Kaneko Shinichi sendiri.

“Setelah itu, ada pria yang tidak sengaja lewat…” Belum selesai Kotaro bicara, Kaneko Shinichi tiba-tiba bersin. Cipratannya mengenai Kotaro. Kotaro langsung mengusap wajah dengan nelangsa.

Kaneko Shinichi malah bertanya balik. “Tempat kantor magang hukum itu apa sih?”

“Tadi kan sudah dijelaskan? Sederhananya, kni tempat berkumpul hakim, jaksa, atau pengacara.” Kotaro juga menjelaskan ia pengacara, bukan jaksa.

Kaneko Shinichi melengos. Kenapa kau melakukan ini? Kotaro menjelaskan meskipun sudah lulus tes pengacara, baik di pengadilan atau firma hukum, tidak ada latihan interogasi semacam ini.

Kaneko Shinichi melempar wajah mengejek. “Jadi kau masih bau kencur.” (Maksudnya masih butuh waktu lama untuk menjadi ‘ahli’)

Bahkan saat Kotaro bilang ia tidak digaji, Shinichi makin meremehkannya. Namun ejekan itu langsung dipatahkan oleh pernyataan Kotaro selanjutnya. Ayahnya seorang presdir dan CEO Perusahaan Makanan ADC. Ia merasa prihatin karena dikasihani seorang pencopet karena tidak digaji. Pada dasarnya, ia sama sekali tidak kesulitan kalau masalah uang.

Setelah itu mereka hampir adu jotos, kalau Rei tidak menginterupsi mereka berdua. Eh, malah keasyikan ngobrol tentang Tendo Yoshimi, seorang penyanyi Enka. Kaneko dan Rei malah ‘nyambung’ membicarakan lagu tradisional Jepang itu. Rei minta maaf. Kotaro menghela napas.

***

Kotaro masih saja membahas tentang kejadian di kantor magang tadi saat makan dengan Rei. Kotaro mengingatkan untuk membuat surat permohonan maaf terkait kasus tersebut, karena itu bagian dari pemeriksaan.

“Karena dia penjahat kan?” kata Kotaro.

Seketika mata Rei langsung bereaksi, namun ia tetap bersikap tenang. “Kalau ia mau mengakui kesalahannya, Jaksa Miyaji juga bisa meringankan tuntutan.”.

Rei malah dipanggil “Bapak Hak Asasi Manusia” oleh Kotaro. Sebenarnya itu adalah julukan Rei sejak masih kuliah. Rei dikenal sebagai orang yang lunak dengan penjahat. Siapapun bisa mengulang kembali hidupnya jika ia mengakui kesalahannya. Begitu prinsip Rei.

Kotaro geleng-geleng kepala. Ia tidak mengerti perasaan penjahat.

Akhirnya Rei mengubah topik pembicaraan. Ia mengumumkan pernikahannya pada Kotaro. Entah kenapa raut wajah Kotaro sedikit berubah.

Sementara itu, Sawa juga memberitahukan rekan kerjanya bahwa ia akan menikah. Ia minta tolong pada Izumi Kosaka, seniornya untuk memberikan pidato pernikahan. Tentu saja Kosaka setuju. Ia juga kenal Rei karena mereka berdua pernah menghadiri Seminar Hukum Pidana yang diselenggarakan Kosaka Sensei. Lalu datang seorang Klien bernama Nakamura. Ia datang untuk konsultasi perceraian.

Malamnya, Sawa mengunjungi rumah Rei untuk makan bersama sesuai janji. Mereka membahas tentang kunjungan Rei selanjutnya. Selain itu Ibu Rei juga bernostalgia tentang kunjungan pertama Sawa ke sana. Rei terlihat lebih ceria berkat kehadiran Sawa. Setelah ngobrol tak jelas tujuan, akhirnya mereka memutuskan tanggal pernikahan. 23 September, bertepatan dengan hari ulang tahun Sawa. Meski Rei berkata tidak sempat karena masih ada magang, namun Sawa setuju dengan hari itu. Ia senang hari ulang tahunnya juga jadi hari pernikahan.

Di kamar Rei, Sawa melihat-lihat majalah pernikahan dan bingung memilih antara gereja dan kuil. Saat Rei bertanya ‘bagaimana di kantormu tadi’, Sawa merenung sejenak. Ia teringat tentang klien Nakamura yang tadi datang ke kantornya. Ia ingin bercerai, meski sang suami bilang ia tidak berselingkuh. Namun istrinya sudah muak. Dulu suaminya pernah berbohong dan berkencan dengan wanita lain, sesaat sebelum mereka menikah. Suaminya ringan sekali berbohong meski dengan wajah datar.

Namun Sawa urung mengatakannya. Ia menceritakan tentang Kosaka Sensei yang mau berpidato di pernikahan mereka. Rei juga bercerita ia dimarahi Kotaro karena terlalu lunak dengan penjahat. Ia tidak cocok jadi jaksa. Ia juga kurang suka dengan pekerjaan itu. Namun ia mendukung Sawa yang ingin menjadi jaksa.

Esoknya seorang pria bernama Oikawa Tomoya (diperankan Dori Sakurada) diinterogasi. Ia yang menjadi saksi saat tas Hosoda Minami dijambret. Ia langsung mengejar Kaneko Shinichi dan menangkapnya. Tomoya menghajar Shinichi. Ia menendang perut Shinichi dan mengakibatkan luka fatal dan tulang patah. Butuh waktu penyembuhan selama enam minggu.

Tomoya bingung. Kenapa aku harus ditangkap?

Kaneko Shinichi selalu kesakitan dalam masa penahanan, hingga ia dibebaskan. Karena itu Tomoya ditahan. Ia menggunakan kekerasan di luar batas pertahanan yang diizinkan saat menangkap Kaneko Shinichi.

Namun Tomoya membantah. Ia memang memukul Shinichi, namun tidak sampai membuatnya patah tulang. Tapi posisi Tomoya tidak diuntungkan. Ia pernah terlibat kasus kekerasan lima tahun lalu. Namun kali ini berbeda. Ia benar-benar ingin membantu korban jambret.

Rei juga ingat saat Kaneko Shinichi bersin. Ia bersin dengan ceria, tidak kesakitan sedikitpun. Seharusnya jika patah tulang belakang, maka pergerakan sekecil apapun akan sakit. Apalagi bersin. Namun karena tidak ada saksi, penyelidikan mereka buntu. Rei pun teringat pada Hosoda Minami sang korban. Mungkin Minami melihatnya.

“Aku akan minta tolong pada tim investigasi!” kata Rei.

Tapi tim investigasi polisi bernama Ichinose malah menyembur marah. Ia sudah menyelidiki semuanya. Buktinya juga sudah lengkap. Namun Rei berkata, kesaksian Hosoda Minami menjadi kunci tentang luka Kaneko Shinichi. Akhirnya Ichinose menyetujuinya.

Setelah itu, Kotaro dan Rei berpapasan dengan seorang pria bertampang seram. Namanya Tachibana. Ia seorang jaksa ‘setan’. Bukan, bukan karena wajahnya. Namun karena kemampuannya menyudutkan penjahat yang sangat brilian. Jika ia yang menginterogasi, penjahat langsung mengaku. Rei hanya ber’oh’ ria.

Layar berganti ke sebuah kedai mi. Sawa sedang bertemu dengan seorang pria yang ternyata kakaknya, Akihito Tachibana. Sawa sedang memuji dan mengkritik tulisan kakaknya yang seorang jurnalis. Namun bukan itu tujuan ia bertemu Akihito. Ia ingin mengajak Akihito pulang untuk menghadiri kunjungan pernikahan Sawa. Namun pria itu yang masih bersitegang dengan Ayah Sawa tidak mau bertemu si wajah seram. Ia masih marah dengan ayahnya, meski sang ibu sudah kangen. Kalau Ayah setuju, Akihito setuju saja kalau Sawa ingin menikah.

Tapi.. ternyata Sawa belum bilang pada Ayahnya kalau ia akan menikah.

***

Lanjut ke Aishite Tatte Himitsu wa Aru Episode 1 part II

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *