[Ep01 Part II] Sinopsis Aishite Tatte Himitsu wa Aru – My Lover’s Secret

Baca juga: Sinopsis Aishite Tatte Himitsu wa Aru Episode 01 part I 

Sementara itu sang Polisi investigasi mengunjungi kediaman Hosoda Minami, namun tidak ada yang menjawab. Salah satu polisi malah bersolek. Katanya Hosoda Minami sangat cantik. Ia harus tampil terbaik saat menginvestigasi wanita itu.

Di kantor magang hukum, Rei menginvestigasi Kaneko Shinichi tentang lukanya. Shinichi bersikeras ia sakit sejak Tomoya memukulnya. Namun saat diwawancara, Rei menyadari luka Shinichi bertambah. Shinichi malah murka. Ia sebal karena dijejali pertanyaan yang mencabik harga dirinya.

“Jangan mentang-mentang aku pernah salah sekali aku tidak bisa memperbaiki hidupku! Katanya ada kesempatan dan hak asasi manusia untuk itu bukan?”

“Mana mungkin ada.” Kotaro mendengus.

Kata itu menohok Rei juga. Akhirnya Rei meminta maaf sebagai ganti Kotaro karena ia tidak profesional.

 

Kotaro keki, karena Rei terlalu baik. Tapi Rei malah makin semangat menyelidiki. Ia pergi menuju TKP untuk mencari kesaksian orang-orang yang lewat sana. Rei semakin giat bekerja. Ia sampai lembur dan tidak melihat pesan Sawa yang ingin bertemu dengannya malam ini. Ia juga ketiduran di kantor sampai pagi.

Padahal hari ini ia akan kunjungan ke rumah Sawa untuk bertemu dengan orang tuanya.

Sawa awalnya marah. Namun ia malah minta maaf. Karena ternyata..

 

Tachibana si Jaksa setan adalah ayahnya.

Keadaan makin parah saat Tachibana menginterogasi Rei seperti kriminal. Bagian klimaks saat sang Jaksa menanyakan kabar ayahnya. Rei menceritakan kepergian ayahnya. Empat tahun lalu. Karena sakit. Satu kebohongan tercetus. Ditambah lagi saat Rei bilang mau jadi pengacara. Ayah Sawa langsung beranjak dari kursi. Maklum, jaksa dan pengacara selalu bertengkar.

Namun Rei mengajukan argumen. Selalu ada alasan di balik sesuatu. Jika jatuh seorang korban, memang sudah sewajarnya kesalahan ditimpakan pada si pelaku. Namun ada banyak situasi sehingga mungkin saja mendorong si pelaku melakukan kejahatan. Rei ingin membantu si pelaku kejahatan saat mereka ingin memperbaiki hidupnya.

Mendengar pernyataan indah itu, Tachibana menantang Rei. “Jika Sawa dibunuh di depan matamu, apa yang akan kau lakukan?”  Rei langsung bungkam. Ia tidak bisa menjawab.

“Yang kau katakan hanyalah pemanis kata-kata. Apapun bentuk dan alasannya, kejahatan tetaplah kejahatan. Orang yang melakukan kejahatan tetaplah salah.” Pungkas Tachibana.

Saat perjalanan pulang, Rei meminta maaf karena tidak berhasil mengatakan “Izinkan saya menikahi Sawa” pada Ayah Sawa. Gadis itu mengira Rei marah, karena merahasiakan soal Tachibana adalah Ayahnya. Namun Rei pantang mundur. Ia tetap maju menikahi gadis itu. Sawa pun lega karena ia sudah mengungkapkan hal yang selama ini ia rahasiakan.

Sawa juga menanyakan ayah Rei seperti apa?

Katanya Rei Ayahnya sangat baik. Ia seorang dokter yang selalu berjuang membantu pasiennya. Katanya dengan mata murung.

 

Lalu malamnya, seorang gadis SMA datang. Namanya Karin Uranishi (diperankan oleh Ai Yoshikawa). Ia mantan murid Rei saat dulu masih jadi guru privat. Karin ingin Rei menjadi guru privatnya lagi, namun karena Rei sedang fokus tes di kantor magangnya, Rei menolak tawaran itu. Tapi Karin tahu Rei menolak juga karena ia akan menikah. Sepertinya Ibu Rei sudah mengumumkan pernikahan  Rei pada orang-orang terdekat mereka.

Di rumah sakit, Ibu Rei juga memberitahukan Dokter Kazami, rekan kerjanya (Ibu Rei adalah perawat). Dr Kazami yang senang dijuluki “Sudah seperti ayah bagi Rei” menyetujui akan datang ke pernikahan Rei. Ia memanfaatkan kesempatan itu untuk promosi diri secara implisit. Menanyakan apakah Ibu Rei tidak ingin memulai hidup baru lagi dengan ‘seseorang’. Dan ditolak halus oleh Ibu Rei.

Sementara itu Karin bilang pada Rei “Jangan menikah” saat ia di ambang pintu, mau pulang. Tapi Rei malah menggodanya. Lalu Ibu Rei pulang dan mengajak Karin makan bareng, yang ditolak halus oleh gadis SMA itu. Saat ia sudah mencapai pagar, Karin berbalik badan dan menatap rumah Rei dengan pandangan menyeramkan.

Esoknya Rei menyelidiki lagi tentang Kaneko, karena ia ingin membuktikan Tomoya tidak bersalah. Dan ternyata benar. Kaneko mendapat patah tulang bukan setelah dihajar Tomoya, melainkan setelah bebas. Ia terpana melihat wanita cantik, sehingga jatuh terjerembab saat naik sepeda. Salah seorang pemilik kedai minum memberikan kesaksian. Diagnosa dokter mengatakan ia baru 6 bulan lagi pulih. Karena itu ia mencari kambing hitam untuk pengobatan patah tulangnya. Tomoyalah yang kena getah. Namun Tomoya sangat berterima kasih karena sudah terbukti tidak bersalah.

Lalu di firma hukum tempat Sawa bekerja, ia ngobrol dengan Nakamura, klien yang sedang dalam konsultasi perceraian. “Kenapa Sawa mau menikah dengan tunangannya saat ini?” tanya Nakamura tanpa bermaksud menyinggung.

Sawa juga bingung. Kenapa ya? Dengan mata menerawang, ia menyebutkan bahwa Rei orang yang baik, tapi anehnya keras kepala. Rei tidak bisa bercocok tanam. Ia juga suka makan selai kacang, tapi tidak bisa menangkap serangga. Tapi aku ingin bersama dengannya yang ‘seperti itu’.

Nakamura tersenyum dan bilang, “Itu hanya perasaan sesaat dan hal yang indah saja bukan?”

“Mungkin benar. Tapi dia saja sudah cukup bagiku.” Ujar Sawa sambil tersenyum.

Nakamura juga tersenyum sambil mengatakan Suaminya tidak bisa makan sushi tanpa wasabi. Lalu Sawa balik bertanya, “Tidak apa-apa jika Anda benar-benar berpisah dengannya?”

Akhirnya Nakamura memutuskan untuk bicara sekali lagi dengan suaminya.

Kosaka Sensei lega ia tidak jadi bercerai. Namun Yamada, asistennya menggerutu. “Padahal ia selalu menjelek-jelekkan suaminya. Sekarang berkata ingin rujuk. Bertentangan sekali.”

“Bukankah manusia memang begitu?” ujar Kosaka sambil tersenyum. “Kita sering bilang kehidupan itu penting. Namun kita tetap makan makanan yang berbahaya. Kita bilang ingin bahagia saat menikah. Namun selanjutnya malah berselingkuh. Manusia memang makhluk yang penuh kontradiksi bukan?”

***

Setelah Rei meminta konfirmasi pada Jaksa Tachibana bahwa Tomoya Oikawa tidak bersalah, ia memberikan jawaban pada beliau. Tentang “Jika Sawa dibunuh di hadapanku, apa yang akan kaulakukan.”

Rei menjawab, “Jika Sawa dibunuh di hadapanku, maka aku sendiri yang akan membunuh pelakunya.” Setelah itu, ia diajak merokok bareng dengan Jaksa Tachibana. Saat ditanya “Tujuanmu apa?” oleh Tachibana, Rei berpikir sejenak sebelum akhirnya berseru kencang. Baru sadar.

“Izinkan aku menikahi Sawa!” serunya sambil membungkuk dalam.

Tachibana tidak menjawab apa-apa. Ia malah bilang celana Rei terbakar kena puntung rokok. Lalu ia meninggalkan Rei yang salah tingkah.

Sorenya, Kotaro Adachi melihat Sawa menunggu di depan kantor magangnya. Sawa bilang terima kasih, karena sudah merahasiakan tentang Ayahnya pada Rei. Setelah mereka bercanda sejenak, Kotaro terdiam. Ia bertanya pada Sawa, “Kau benar akan menika..”

Lalu Rei datang. Kotaro urung menanyakannya. Ia tampak murung juga melihat kemesraan Sawa dan Rei. Saat berbalik pulang, ada perasaan sedih yang terbias di wajahnya.

Lalu saat Sawa dan Rei pulang ke apartemen Sawa, sekilas terlihat ada orang yang membuntuti mereka.

Di dalam apartemen, Rei bercerita bahwa ia sudah ‘meminta’ Sawa pada Ayahnya. Sawa kaget bukan main, namun ia terlihat senang.

Rei berkata, “Tapi mungkin ada benarnya juga. Yang kukatakan hanya hal-hal indah saja.”

“Meskipun itu hal yang terlihat indah, itu pilihan yang baik kok.” Ujar Sawa, sebelum akhirnya ia melesat menuju kamar mandi.

Rei merenung. Pikirannya terlempar ke kejadian tiga tahun yang lalu, saat ia sedang duduk di ruang kuliah, di kelasnya Kosaka Sensei. Topik mata kuliah saat itu tentang kasus yang tidak ada motif kejahatan. Rei diminta menjawab dengan analisis.

“Aku akan menanyakan alasan dibalik kasus itu, dan mencoba mengerti perasaannya…”

Salah seorang mahasiswa mendengus meremehkan. Rei melanjutkan. “Mungkin benar kejahatannya tidak bisa dimaafkan. Tapi bisa jadi ia terlibat dengan situasi dimana ia tidak punya pilihan selain membunuh. Mungkin ia terpojok.”

“Kalau ia terpojok memang membunuh orang adalah hal yang wajar? Orang itu aneh, membunuh orang karena terpojok.”

“Betul. Tapi aku rasa ia juga tersiksa. Seandainya ia tidak membunuh. Seandainya ia bisa memutar waktu. Seandainya ia bisa memilih jalan lain. Bukan dia saja yang menderita, orang-orang di sekelilingnya juga menderita.”

“Lalu kenapa? Harusnya dia menderita sendiri saja dan lebih baik mati sana.” Ujar mahasiswa itu dengan sengit.

“Sebesar apapun kejahatannya, ia bisa memulai kembali.”

“Tapi bukan di sini tempatnya. Tidak ada yang mau menerima orang seperti itu. Ia tidak pantas hidup di dunia ini. Apapun yang dilakukan, Kita tidak bisa mengubah masalalu.”

Rei terdiam, sementara Sawa yang berada di kelas yang sama, memperhatian pria itu.

Setelah kelas selesai, dengan riang Sawa menghampiri Rei. Mengatakan bahwa gadis itu setuju dengan pendapat Rei. Namun Rei bingung, dan bertanya-tanya ini siapa? Ternyata itu pertemuan pertama mereka, guys.

Sawa bilang mahasiswa tadi bicara berlebihan. Dan Rei bilang. “Ia tidak mengerti, karena itu ia bicara seperti itu.”

“Aku sih tidak masalah jika ada yang berbeda pendapat denganku. Menurutku kita tidak tahu besok kita akan menjadi apa. Dan mungkin saja menjadi Pembunuh.” (Naudzubillah min dzalik >.<) “Kita tidak bisa memilih lahir dari siapa dan menjadi apa bukan?”

“Itu hanya kata-kata indah.” Kata Rei.

“Meskipun itu kata-kata indah, itu pilihan yang baik kok.” Kata Sawa sambil tersenyum. “Ada tidak ya?  Tempat yang memungkinkan untuk mengulang kembali. Meskipun tidak diterima orang lain dan masih bisa tertawa meskipun dengan satu orang, kurasa itu sudah menjadi tempat yang baik untuk mengulang kembali. Pasti orang itu bisa hidup kembali dengan baik.”

Dan Rei menangis terharu. Sawa sampai bingung. Dan ia salah sebut nama keluarga Rei. Okayama. Padahal Okumori.

 

Esoknya mereka bertemu kembali. Sawa hampir pingsan karena kelaparan. Saat Sawa makan dengan lahap, Rei menatapnya dengan takjub. Katanya dulu Sawa gemuk saat berumur 6 tahun. Nama panggilannya “Dosukoi”. (Dosukoi adalah teriakan saat melihat para pesumo.) Rei tertawa. Ia bilang sudah lama sekali tidak tertawa. Sudah delapan tahun ia tidak tertawa.

Rei tidak menyangka ia bisa dekat dengan Sawa hingga selama ini. Ia berharap mimpi ini tidak akan pernah terputus.

Saat Sawa kembali dari kamar mandi, Rei berkata ingin membahagiakan Sawa, meskipun ia gendut sekalipun. Rei pun gantian melamar Sawa. “Menikahlah denganku.”

“Aku akan selalu mendampingimu.” Sawa pun memeluk Rei.

Saat itu ponsel berdering. Sebuah email masuk ke HP Rei. Rei langsung membelalak melihat isinya.

“Kau tidak mengenalkan tunanganmu pada Ayahmu yang terbaring di pekarangan?”

Saat Rei kembali, ada seikat mawar kuning yang terbaring di pekarangannya. Mawar kuning yang mirip dengan kejadian malam itu. Mawar kuning yang dihempaskan ayahnya ke lantai.

Lalu email masuk. Ibunya akan pulang telat malam ini.

Lalu, Ichinose, polisi yang menyelidiki kasus penjambretan Kaneko tampak sibuk.Katanya, ada kasus pembunuhan. Saat ia bergegas keluar, ia bertemu dengan kakak Sawa. Insting jurnalis kakak Sawa langsung penasaran, meski ia langsung ditinggal oleh Ichinose karena ia sedang sibuk dengan kasusnya.

Ternyata, kasus itu adalah kasus pembunuhan Hosada Minami, korban penjambretan. Dan Rei sangat terkejut saat mengetahui pelakunya. Tomoya Oikawa pasrah saat digiring dengan tangan terborgol.

Sementara itu di kantor firma hukum tempat Sawa bekerja, Nakamura kembali berkonsultasi lagi. Sawa bingung. Kenapa? Ternyata suami Nakamura sudah punya anak dengan selingkuhannya. Apalagi anak selingkuhannya itu sudah tinggal di rumah mereka. Ia menangis histeris. Tahu begitu aku tidak menikah!

Scene berganti saat Rei menatap Tomoya Oikawa. Ia bertanya, kenapa bisa begitu? Ternyata korban pembunuhan yang ditemukan di waduk Futsukawa adalah Hosada Minami. Dan Tomoya adalah penguntit Minami sejak lama. Karena itu ia langsung tahu saat Minami dijambret. Minami dibunuh setelah kejadian penjambretan.

Rei langsung bertanya pada Tomoya Oikawa, alasan membunuh Minami. Ternyata Tomoya ditolak Minami. Padahal ia tahu ia harus menahan diri, namun malah jadi membunuhnya. “Padahal aku kira aku sudah membenamkan dia rapat-rapat. Membenamkan rasa sukaku. Dan kejahatanku.”

Rei langsung terhenyak. Kata-kata ibunya terngiang. “Jika tidak ada bukti, maka tidak ada kejahatan.” Rei agak lemas setelah mendengar kata-kata Oikawa. Apalagi saat di lift, ia bertemu dengan ayah Sawa. “Aku tidak menyangka Oikawa menjadi pembunuh. Tapi karma itu pasti ada. Jika ia berbuat kejahatan, pasti ada balasannya. Karma itu pasti ada. Kita tidak bisa membohongi Tuhan.”

Malamnya, Rei bermimpi bertemu dengan ayahnya. Ayahnya membawa mawar kuning. Rei nyaris dicekik.  Saat ia bangun, terdengar teriakan ibunya dari bawah.

Dan… kuburan ayahnya sudah digali ulang. Lengkap dengan mayatnya yang hilang dari sana.

 

Review Corner

I know what you did last summer, baby! Film ini mengingatkanku dengan film jadul itu. I know what you did last summer. Dan pas banget kesalahan yang Rei lakukan juga saat musim panas, meski menurutku kontennya sama sekali berbeda. Aku agak penasaran dengan topik yang diangkat dalam drama ini. Tentang pelaku kejahatan yang ingin memulai kembali hidupnya. Tentang anggapan masyarakat terhadap itu.

Memang agak berat jika dipikir-pikir. Kalau boleh jujur, memang yang dilakukan oleh Rei sedikit idealis. Rei menyamaratakan pendapatnya bahwa semua tersangka memiliki alasan. Aku tahu Rei bisa saja berpendapat begitu karena mencari pembenaran atas kesalahannya di masa lalu. Tapi aku juga mengerti, pasti ada tempat bagi mereka yang mau menebus kesalahannya. Dimanapun itu. Karena Tuhan selalu memberi kesempatan bagi siapapun yang ingin bertobat, kan?

Tapi ngerti juga sih argumen mahasiswa yang satu kelas dengan Rei. Kalau aku pikir lagi aku cukup sadar dengan instingku yang akan menghindar dari orang yang pernah memiliki catatan buruk, meski aku pasti mendoakan mereka untuk tetap menjalani hidup dengan baik. Ini memang kontradiksi yang menuai argumen tiada batas. Selalu saja ada pro dan kontra. Karena, jarang ada orang yang mau repot mencaritahu alasan di balik suatu kejadian. Apalagi menyangkut masalah kejahatan.

Satu lagi. Tentang omong kosong yang dipoles indah. Kata-kata idealisme yang mungkin tidak sesuai dengan realita. Aku mulai sadar saat kata-kata indah dan idealisme mulai kacau balau. Satu per satu mulai tercerai berai. Saat Nakamura yang ingin berbaikan dengan suami, namun kenyataannya sang suami sudah memiliki anak dari orang lain. Tentang Tomoya Oikawa yang dibela Rei, namun ia membunuh orang yang dicintainya. Rasa-rasanya semesta seperti ingin memberi tahu bahwa idealisme bisa saja salah.

Bahwa kejahatan akan menuai karma. Dan Tuhan tidak bisa dicurangi. Dan kebenaran pasti akan terungkap.

Selain itu aku suka banget sama chemistry Fukushi Sota dan Haruna Kawaguchi. Aku kadang bingung sama orang yang berpendapat mereka tidak bisa akting. Padahal Haruna selalu membuatku terkesan. Dia punya wajah yang  banyak. Haha. Maksudnya dia bisa jadi orang yang polos banget, lalu bisa jadi orang yang ceria banget.  Dan dia benar-benar masuk ke karakter peran. Melupakan karakter aslinya yang agak tomboy IMHO. Dan aku penggemar setia dramanya Fukushi sota. Karena itu aku selalu memprioritaskan dramanya di antara drama-drama lainnya.

Sejauh ini aku menikmati sekali episode ini. Banyak elemen-elemen yang masih belum terungkap. Episode satu ini mereka masih memberi kode lewat raut wajah. Kotaro yang murung. Karin yang terlihat keji. Tachibana yang poker face dengan pendapatnya yang langsung menghantam hati. Masih banyak kepingan puzzlenya, dan aku sangat menantikan episode selanjutnya.

Sampai ketemu di recap selanjutnya! 😀

Baca juga: Sinopsis Aishite Tatte Himitsu wa Aru Episode 01 part I 

Lanjut baca: Sinopsis Aishite Tatte Himitsu wa Aru Episode 02 part I

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *