[Ep02 Part I] Sinopsis Aishite Tatte Himitsu wa Aru – My Lover’s Secret

Baca sinopsis sebelumnya: [Ep01 Part II] Sinopsis Aishite Tatte Himitsu wa Aru – My Lover’s Secret

Setelah melihat kuburan ayahnya dibongkar, Rei dan Ibunya buru-buru membenahi pekarangan. Jasad sang Ayah hilang, beserta senjata pembunuhnya. Sang ibu terlihat stress. Ia malah mengatakan sesuatu seperti ‘aku akan memisahkan sampah yang bisa dibakar’ dengan mata kosong. Lalu Rei berkata, “Ibu, aku akan menyerahkan diri.”

Sawa terlihat merenung. Rekan kerjanya, Yamada sampai bertanya, kenapa mukamu begitu? Ternyata ia teringat klien tempo hari, Nakamura-san. Akhirnya ia bercerai dengan suaminya. Ia bahkan bilang, “Seandainya aku tidak menikah”. Tachibana merasa terbebani karena ia mengusulkan untuk ‘bicara baik-baik sekali lagi dengan suami Anda.’ Kosaka-sensei pun menghiburnya.

“Nanti ia juga akan bersyukur karena tahu kebenarannya.”

Yamada juga mencetuskan pertanyaan, “Tapi mana yang lebih baik? Tahu kebenaran sekarang, atau tahu sebelum mati?”

Di kantor, Rei sampai tidak konsentrasi. Ia nyaris tertabrak sepeda. Gara-gara Ibunya melarang Rei untuk menyerahkan diri, Rei jadi bengong seharian. Ibunya ingin semuanya tetap seperti biasa. Tapi ada seseorang yang tahu. Lebih baik menyerahkan diri sebelum diungkap kebenaran oleh orang lain bukan?

“Tapi bagaimana Ibu akan melanjutkan hidup jika kau tidak ada, Rei?”

Malamnya, Sawa mampir ke rumah. Ia ingin membuatkan Rei makan malam lantaran Ibu Rei ada shift malam. Sepanjang makan malam, Rei terus-terusan melamun. Padahal Sawa sedang membicarakan tentang pernikahan mereka. Tapi Sawa tidak terlalu peka. Ia malah bertanya, ‘Apa makanannya tidak enak?’

Lalu Sawa bertanya, kapan keluarga kita bisa bertemu? Rei minta Sawa menunggu sedikit lagi. Lagipula Rei belum disetujui oleh Tachibana, Ayah Sawa. Tapi Sawa bilang ia akan membujuk ayahnya. Sawa ceria sekali malam itu. Ia bahkan juga membuat salad. Di tengah keceriaan itu, Rei mendapat teror e-mail lagi.

“Aku menemukan Ayahmu~” kata e-mail itu.

Esoknya di depan kantor Jaksa tempat Rei bekerja, polisi Ichinose mencegat Rei. Rei gugup sekali. Lagak Ichinose sudah seperti menginterogasi penjahat. Namun ternyata Ichinose Cuma bilang “Jangan jadikan polisi seperti pembantu jaksa!” Ia marah-marah karena Rei seenaknya bilang ini itu, terkesan seperti menyuruh. Rei pun minta maaf.

Kotaro Adachi dapat tawaran pekerjaan dari Cruz and Brown. Katanya ini perusahaan besar yang menangani urusan hukum. Kotaro tidak perlu mengurusi penjahat. Rei masih betah bengong. Setelah ditarik ke alam nyata oleh Kotaro, Rei pun memberinya selamat. Kotaro cemas Rei yang ingin menikah malah belum mendapatkan posisi dan pekerjaan tetap.

Lalu kasus masuk ke divisi mereka. Tersangkanya anak laki-laki berumur 15 tahun bernama Fukami Shuji. Ia masih kelas 3 SMP. Ia menikam temannya dari samping. Korban tak sadarkan diri. Motif belum diketahui. Ia terus diam saat diinvestigasi. Rei berinisiatif menangani kasus ini. Kotaro menyerahkannya dengan senang hati.

Sementara itu, Ayah Sawa membaca berkas file Rei di ruangannya. Wajahnya terlihat memikirkan sesuatu.

Saat diwawancarai Rei, Fukami Shuji masih tetap diam. Berita di TV pun mengatakan bahwa Shuji dan korban adalah teman baik, dan alasan dibalik kejahatan Fukami masih belum diketahui.

Kemudian pengacara Fukami Shuji datang. Namanya Makoto Tsubaki. Ia berkonsultasi tentang kasus ini. Makoto juga bingung karena Shuji tidak mau bicara sepatah katapun. Ia ingin membela Fukami, tapi bagaimana caranya? Sebenarnya Shuji juga anak yang baik. Ia mencemaskan orang tuanya karena kasus ini. Dan mereka berasal dari keluarga yang damai aman sentosa. Karena itu Makoto menyayangkan kasus ini.

Baca juga sebelumnya: [Ep01 Part I] Sinopsis Aishite Tatte Himitsu wa Aru – My Lover’s Secret

Rei pun menyelidiki lewat media sosial tersangka. Kotaro malah sempat bercanda. Katanya tersangka iri dengan korban karena kepopulerannya. Di tengah komentar-komentar yang beterbaran,  banyak yang menghujat Fukami. Kotaro menghela napas. “Itu hal yang wajar. Tidak ada yang mau berdekatan dengan penjahat bukan?”

Tiba-tiba ponsel Rei berdering. Ia mendapat kabar Ibunya pingsan saat bekerja. Kazami-sensei meminta maaf karena Ibunya sampai pingsan, kelelahan bekerja. Ibu Rei sangat giat, dan seperti keajaiban ia tidak tumbang selama sepuluh tahun terakhir ini. Sejak Ayah Rei meninggal, Ibu Rei membanting tulang untuk membiayai Rei.

Rei pun menitipkan Ibunya pada Kazami-sensei. Bukan hanya saat sakit saja, tapi Rei ingin Kazami-sensei menjadi orang terdekat ibu. Kazami-sensei sampai gelagapan. “Jika aku tidak ada, Ibu akan sendirian. Aku ingin ibu bahagia. Kebahagiaan Ibu kebahagiaan aku juga.”

Kazami-sensei tersenyum. “Kalian memang ibu dan anak. Shoko juga mengatakan hal yang sama.  ‘Kebahagiaan Rei kebahagiaan aku juga.’” Sesaat kemudian, ibunya pun terbangun lemah.

“Maaf ibu merepotkan kalian.” Rei tersenyum dan menggeleng.

Sesampainya di rumah, Rei dan Ibunya memandang pekarangan belakang. “Sejak itu ada hal aneh terjadi?” tanya Ibunya. Rei teringat surel kaleng, namun urung mengatakannya. Tiba-tiba Rei minta maaf. Ia bilang tidak akan menikah. Ia akan putus dari Sawa. Ia tidak ingin melibatkan Sawa dengan masa lalunya. Awalnya ia kira ia bisa melewati ini semua jika bersama Sawa. Namun ia salah. Pembunuh tidak akan bahagia.

Di rumah, Sawa teriris pisau saat memasak dengan Ibunya. Sawa harus lebih giat berlatih jika ingin pandai memasak. Setelah itu Ibunya menanyakan kabar Akihito, sang kakak laki-laki. Akihihito sehat, namun ia belum bisa memaafkan Ayah. Bahkan ia tidak akan datang ke acara makan malam keluarga Okumori dan Tachibana.

Lalu Ayah Sawa pulang kantor. Sawa meminta persetujuan Ayahnya untuk makan malam dengan keluarga Okumori. Tapi Ayah Sawa tidak mau. Ia belum menyetujui pernikahan mereka. Sawa tidak habis pikir. Kenapa Ayah sangat membenci Rei?

Baca juga: Sinopsis Aishite Tatte Himitsu wa Aru – My Lover’s Secret

“Kau terlalu mudah percaya pada orang.” Kata Ayahnya. “Kenyataan bahwa ia tidak ingin jadi jaksa makin membuatku ragu. Pikiran manusia mudah membelokkan sesuatu untuk kenyamanan dirinya sendiri.”

Sawa makin kesal. “Rei bukan penjahat!”

Sepulang dari rumahnya, Sawa melihat sesuatu tersangkut di pintu apartemennya. Sebuah surat. Dan ketika Sawa lihat isinya, ia kaget bukan main. Lalu Rei mengirim pesan. “Sawa, aku ingin bicara denganmu besok.”

Sawa pun membalas dengan hal yang sama. “Aku juga ingin bicara denganmu.”

Esoknya, Sawa bertanya hal mengejutkan. “Aku ingin bertanya tentang Ayahmu. Kau berbohong bukan padaku?”

Rei agak panik. Bagaimana Sawa bisa tahu? Namun ternyata saat Sawa menunjukkan kartu keluarga Okumori, ketegangan Rei agak mengendur.

“Kenapa kau tidak bilang bahwa Ayahmu menghilang?” Sawa sangat marah. Namun Rei diam saja. “Kenapa kau tetap diam?”

“Kalau kau tidak mau memaafkanku, aku tidak apa-apa.” ujar Rei lemah.

Sawa marah dan meninggalkan Rei.

Penyelidikan terhadap Fukami Shuji masih berlanjut. Rei bertanya, apakah Fukami dekat dengan Enomoto, sang korban? Atau malah dibully olehnya? Bagaimana perasaanmu setelah melakukan hal itu? Bagaimana jika Enomoto akhirnya sadar dari komanya?

Pertanyaan terakhir membuat Fukami bereaksi, meski hanya gerakan bola mata. Jaksa lain cemas jika Fukami diam terus, ini sama sekali tidak membantunya. Akhirnya Fukami bicara. “Aku tidak masalah. Aku sudah putuskan tidak akan bicara apapun. Jika aku bicara, semua orang tidak akan bahagia.”

Akhirnya kasus ini akan dibawa ke pengadilan keluarga.

Di kantornya, Sawa bertanya pada Yamada. “Apa alasan kuat yang menyatakan seseorang menghilang?”

“Alasan yang biasa ditemukan: orang itu kabur dari rumah. Mungkin  muak dengan rumah. Laki-laki banyak memikirkan sesuatu dan akhirnya malah kabur.”

Ada juga ia bunuh diri dan tidak ada yang menemukan. Lalu ia melakukan bisnis gelap dan kabur keluar negeri. Atau bisa juga terlibat kejahatan.

“Memangnya siapa yang hilang?”

“Temanku minta saran. Katanya Ayah pacarnya menghilang.”

“Aku pasti langsung berpisah kalau jadi temanmu.” Ujar Yamada acuh tak acuh. “Siapa yang mau terlibat dengan masalah seperti itu?”

Sawa kaget dan termangu. Lalu Kosaka Sensei pulang. Ia bertanya pada Sawa tentang pekerjaan Okumori Rei. Sawa menjawab dengan nada ketus.

“Tidak tahu. Sensei bisa bertanya sendiri pada orangnya.”

Akhirnya Kosaka Sensei bertemu Rei. Kenalannya adalah pengacara di sebuah firma hukum. Ia sedang mencari pegawai untuk divisi kriminal. Ia pun menawarkannya pada Rei. Rei bingung. Ia masih belum tahu ingin jadi pengacara yang seperti apa. Katakanlah ia bertemu terdakwa yang tidak mau bicara satu patah katapun. Apakah dibolehkan mengungkap kebenaran dengan cara memaksa?

“Apa kau ingat? Kita pernah membahas kasus yang sama saat di seminarku dulu? Kau memberikanku kesan yang mendalam tentang pelaku kejahatan. Bahwa pelaku pasti juga merasa menderita.” Kata Kosaka Sensei. “Sebenarnya manusia tidak terlalu banyak bicara. Namun kurasa Okumori bisa menggali lebih dalam ‘suara’ yang terpendam itu.”

 

Rei pun menyelidiki ke sekolah Fukami. Fukami ikut klub seni. Ia biasa duduk di bangku paling belakang, dekat jendela. Ia terus-terusan melihat ke luar jendela, tanpa melukis sedikitpun. Okumori pun duduk di sana, mencoba melihat dari perspektif Fukami. Di kejauhan, terlihat klub lompat tinggi sedang berlatih. Seorang atlet melompati palang dengan mulusnya. Rei seperti menyadari sesuatu.

Ia pun bicara lagi dengan Fukami. Fukami sudah bilang ia tidak akan bicara apapun. Ia kesal dan ingin pergi meninggalkan ruangan. Rei malah meminta hal yang aneh. “Pejamkan matamu.” Kata Rei. Fukami bingung, namun akhirnya menurut juga.

Saat mata terpejam, Rei bertanya. “Apa yang kau lihat?”

“Gelap. Tidak ada yang kulihat.”

“Kalau begitu bayangkan masa depan. Apa yang kau lihat?”

“Hitam. Aku tidak melihat apapun.”

“Aku juga pernah ada di posisi itu.” Kata Rei akhirnya. “Saat ini separuh diriku pun masih di sana. Aku juga punya rahasia. Jika aku katakan, tidak ada yang bahagia. Tapi aku mulai tidak mengerti. Jika saat itu aku mengaku, aku tidak akan membuat keluargaku menderita. Aku juga tidak akan membuat orang yang kucintai sakit hati. Aku tidak ingin kau menjadi sepertiku.”

Fukami marah. “Biarkan aku sendiri! Aku sudah tidak punya tempat kembali.” Katanya sambil terengah-engah. “Benar kan? Mana ada orang normal yang menusuk orang lain saat sedang marah. Aku sangat aneh.”

Rei tetap tenang dan berkata lagi. “Dulu ada yang pernah bilang padaku. ‘Pasti ada tempat dimana kita bisa memulai kembali setelah semua yang terjadi.’ Ujar Rei. “Tempat duduk dekat jendela di klub seni, sangat nyaman ya? Pemandangannya pun juga bagus.”

Fukami menunduk. “Di sana, aku bisa melihatnya berlatih. Aku bisa melihatnya melompat. Aku sangat menyukainya. Aku menyukai Enomoto-kun.”

Fukami berlutut sambil menangis. Ia menyukai Enomoto yang sesama laki-laki.

Malamnya, Karin mampir ke rumah Rei. Namun ia masuk saat keadaan rumah masih kosong. Dengan pandangan mengerikan, ia masuk ke kamar Rei. Anehnya, ia hanya berbaring di kasur Rei.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *